Teori Asal – Usul Kehidupan

Teori Asal – Usul Kehidupan – Ada banyak sekali teori yang beredar di seluruh dunia yang mendefinisikan dan mengulas tentang asal – usul kehidupan mahkluk hidup. Nah dari sekian banyak teori yang dikenal, di seluruh dunia ditemukan dua kelompok besar teori yang mempelajari tentang asal – usul kehidupan yang sangat mudah untuk dipahami dan diterima secara luas yaitu Teori Evolusi Kimia dan Teori Evolusi Biologi.

Masing – masing dari kedua kelompok besar teori tersebut di atas mempunyai beberapa teori turunan yang sudah dijelaskan berkali – kali berdasarkan atas catatan sejarah kemunculan terhadap teori – teori tentang asal – usul kehidupan mahkluk hidup, contohnya adalah Teori Abiogenesis dan Biogenesis. Merupakan sebuah langkah awal terhadap rangkaian proses pemikiran manusia di masa depan tentang asal – usul kehidupan mahkluk hidup di alam semesta ini.

Teori Biogenesis

Secara garis besar teori ini menjelaskan tentang mahkluk hidup pada awalnya berasal dari mahkluk hidup yang lainnya. Adapun tokoh yang mendukung teori ini antara lain Francesco Redi, Lazzaro Spallanzani dan Louis Pasteur. Francesco Redi adalah orang pertama yang membuat sebuah penelitian yang isinya pada intinya adalah membantah keberadaan Teori Abiogenesis.

1). Percobaan Teori Francesco Redi

Francesco Redi menciptakan dan melakukan sebuah penelitian dengan mengaplikasikan 8 tabung dibagi menjadi 2 bagian dimana empat tabung masing – masing diberi isi berupa daging ular, ikan, roti dengan dicampur susu dan daging sapi. Keempat tabung pertama dibiarkan terbuka, empat tabung lainnya diperlakukan sama dengan yang pertama hanya saja tabung – tabung ini ditutup rapat. Setelah melalui beberapa hari, pada tabung yang terbuka ditemukan larva yang diketahui nanti akan menjadi lalat. Berdasarkan atas penelitian yang dilakukan, Redi menyimpulkan bahwa ulat / larva bukan berasal dari daging melainkan berasal dari telur – telur lalat yang bersarang di dalam daging dan akan menetas menjadi larva.

Pada awal diumumkan kesimpulan dari penelitian yang dilakukan, banyak mendapat tentangan terutama oleh penganut Teori Abiogenesis karena di dalam tabung – tabung yang tertutup rapat, udara dan zat – zat hidup lainnya tidak bisa masuk sehingga tidak memungkinkan di dalam tabung ada sebuah kehidupan. Bantahan ini langsung dijawab oleh Redi, bahwa Redi meneliti percobaan yang dimaksud adalah sama saja seperti teori – teori lainnya yang sudah dilakukan sebelumnya, namun untuk selanjutnya tutup diganti dengan memakai kain kasa sehingga udara bisa masuk meskipun dalam jumlah sedikit. Ternyata di dalam daging tidak ditemukan larva.

2). Percobaan Lazzaro Spallanzani

Pada tahun 1765, Lazzaro S. melakukan penelitian untuk menyanggah kesimpulan dari penelitian yang dilakukan oleh Nedham. Lazzaro S. melakukan penelitian dengan cara memanaskan 2 tabung yang berisi air kaldu daging sehingga masing – masing organisme yang ada di dalam air kaldu mati terbunuh. Setelah didinginkan selama beberapa jam, kaldu dibagi menjadi 2 bagian, satu tabung dibiarkan terbuka dan yang lainnya ditutup rapat. Ternyata pada tabung yang terbuka berisikan sekelompok organisme sedangkan pada tabung yang tertutup rapat tidak ditemukan organisme.

Penelitian yang dilakukan oleh Lazzaro Spallanzani ini memiliki prinsip sama dengan percobaan yang dilakukan oleh Redi tersebut di atas, bahan – bahan yang disiapkan adalah air kaldu dan Buah Labu Kuning sebanyak 2 biji.

Labu 1 : diisi sekitar 70 cc air kaldu. Selanjutnya dipanaskan rata – rata 15 derajat Celsius dan kondisi dibiarkan terbuka. Labu 2 : diisi dengan 70 cc air kaldu, kemudian buah ini ditutup rapat dengan memakai sumbat gabus. Lalu kaldu di dalamnya dipanaskan hingga mendidih dan pada titik tertentu yaitu di daerah pertemuan gabus dengan mulut Labu diolesi dengan lilin agar kondisi lebih rapat. Kedua Buah Labu tersebut masing – masing ditempatkan di alam terbuka dan didinginkan. Beberapa hari kemudian hasil penelitian memperlihatkan bahwa Labu 1 : terjadi perubahan dimana air kaldu berubah menjadi semakin keruh dan mengeluarkan bau yang kurang sedap serta banyak hidup mikroba di dalamnya. Labu 2 : tidak ada banyak perubahan dimana air kaldu tetap dalam kondisi jernih dan tanpa mikroba hidup di dalamnya. Namun jika Labu 2 ini dibiarkan dalam keadaan terbuka lebih lama maka kondisi akan sama dengan Labu 1.

Dengan memakai alat bernama Mikroskop akan terlihat jelas bahwa pada kaldu yang berasal dari Labu 1 dan Labu 2 masing – masing terdapat mikroorganisme. Selanjutnya Spallanzani menyimpulkan bahwa munculnya suatu kehidupan hanya akan mungkin terjadi apabila telah ada sebuah kehidupan sebelumnya. Jadi mikroorganisme yang dimaksud ada adalah berasal dan tersebar di udara.

Para pendukung Abiogenesis menyatakan keberatan terhadap hasil dan kesimpulan dari percobaan yang dilakukan oleh Spallanzani, karena udara dibutuhkan untuk berlakunya proses ‘generation spontanea’. Sedangkan aliran Biogenesis beranggapan bahwa udara adalah segala sumber kontaminasi.

3). Percobaan Louis Pasteur

Pendukung selanjutnya yang memperkuat Teori Biogenesis dan mampu menyangkal Teori Abiogenesis hingga tak dapat lagi memberikan penjelasan kelanjutan adalah Louis Pasteur (1822 s/d 1895), adalah seorang Ahli Biokimia berkebangsaan Perancis yang melakukan penelitian dengan cara menyempurnakan percobaan – percobaan yang sudah dilakukan dan dibuktikan oleh Spallanzani.

Louis Pasteur melakukan penelitian dengan memakai Labu Leher Angsa. Pertama – tama kaldu di dalamnya direbus sampai benar – benar mendidih. Selanjutnya didiamkan dalam beberapa hari. Air kaldu tetap dalam kondisi jernih dan tidak mengandung mikroorganisme. Hal ini disebabkan karena Labu Leher Angsa memungkinkan udara bisa masuk ke dalam tabung namun mikroorganisme udara ini terhambat masuk ke dalam tabung utama karena adanya uap air yang menghalangi pada bagian pipa leher. Jika tabung dimiringkan hingga kondisi air kaldu berada pada permukaan pipa, maka air kaldu tersebut bisa saja terkontaminasi oleh mikroorganisme udara. Akibatnya adalah setelah beberapa waktu, air kaldu berubah menjadi keruh karena di dalamnya mengandung mikroorganisme.

Kesimpulan dari penelitian yang dilakukan oleh Pasteur adalah mikroorganisme yang terkandung di dalam air kaldu sebenarnya bukan berasal dari cairan (benda tidak hidup), melainkan adalah hasil kontaminasi dari mikroorganisme yang banyak betebaran di udara. Mikroorganisme yang dimaksud ada di udara masuk ke dalam Labu bersama – sama dengan debu.

Di dalam buku versi lain tentang penelitian – penelitian yang dilakukan oleh Louis Pasteur menjelaskan sebagai berikut :

  • Air kaldu yang tersimpan di dalam Labu yang tidak memiliki bentuk Leher Angsa diketahui banyak mengandung mikroorganisme.
  • Adapun Labu Bentuk Leher Angsa yang berhubungan dengan udara luar ternyata tidak mengandung mikroorganisme.

Nah berdasarkan atas hasil percobaan dari para Ilmuwan tersebut di atas maka muncullah sebuah teori baru yang disebut dengan Teori Biogenesis menjelaskan bahwa : masing – masing mahkluk hidup berasal dari sebutir telur (‘omne vivum ex ovo’), masing – masing telur berasal dari mahkluk hidup (‘omne ovum ex vivo’) dan masing – masing mahkluk hidup berasal dari mahkluk hidup sebelumnya (‘omne vivum ex vivo’).

Perhatikan ikhtisar percobaan yang dilakukan oleh Nedham, Spallanzani, dan Pasteur yang terangkum di dalam tabel berikut di bawah ini.

4). Teori Cosmozoic Kosmozoan

Teori ini menjelaskan bahwa asal mula dari mahkluk hidup di Bumi ini adalah berasal dari sekumpulan ‘spora kehidupan’ yang pertama kali berasal dari luar angkasa. Kondisi planet – planet di luar angkasa diliputi oleh keadaan kekeringan di sekitarnya disertai dengan suhu yang sangat dingin dan adanya radiasi – radiasi yang dapat mematikan sehingga kondisi ini tidak memungkinkan kehidupan jenis apa pun mampu bertahan lama di dalamnya. Nah pada akhirnya spora – spora kehidupan berjatuhan hingga ke Bumi / alam semesta. Teori inilah yang tidak bisa diterima oleh beberapa kelompok ilmuwan di dunia.

Demikian kami menjelaskan tentang teori asal – usul kehidupan  semoga bermanfaat bagi para pembaca !

Updated: April 27, 2019 — 4:12 am

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *