Loading…

Bisnis Online Modal 10ribu Hasil Jutaan Klik DISINI

Perbedaan Metagenesis Paku dan Lumut

Perbedaan Metagenesis Paku dan Lumut – Tanaman paku dan lumut mungkin masih asing bagi kebanyakan masyarakat urban yang hidup di perkotaan.

Maklum saja, biasanya kedua jenis tanaman ini sering tumbuh di daerah sungai. Tanaman paku dan lumut senang berada di kondisi lembap atau basah.

Meski sepintas terlihat sama, ternyata antara tanaman paku dan lumut memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Bahkan, metagenesis antara paku dan lumut pun berbeda.

Nah, seperti apa Perbedaan Metagenesis Paku dan Lumut? Mari kita kupas sampai habis ya…

Perbedaan Metagenesis Paku dan Lumut

Apa itu lumut?

Lumut termasuk dalam golongan tanaman yang tumbuh di darat. Jangan salah, meskipun lumut senang muncul di daerah yang basah dan lembap. Tetapi lumut tidak pernah tumbuh di dalam air.

Baca Juga :

Namun, karena adaptasi alam, spesies lumut tertentu bisa tumbuh di dalam air, contohnya lumut rawa atau lumut gambut.

Lumut seringkali berwarna hijau dan tidak memiliki akar ataupun batang. Akan tetapi, sebenarnya lumut memiliki akar yang disebut akar semu. Lumut lebih sering dikenal sebagai kombinasi antara tanaman kormofita dan talofita.

Lumut bersifat autotrof

Tanaman lumut yang berwarna hijau disebabkan oleh senyawa klorofil untuk menghasilkan makanan sendiri. Sifat inilah yang disebut sebagai autotrof.

Yaitu, dapat memasak makanan sendiri. Akan tetapi, pada bagian akar dan batang tanaman lumut tidak ada xylem maupun floem untuk mengalirkan makanan.

Akan tetapi, tanaman lumut senang hidup menempel di daun-daun. Seperti jenis melati dan anggrek atau tanaman epifil. Tidak heran jika, suatu hutan terdapat banyak sekali jenis tanaman epifil, maka disebut juga dengan hutan lumut.

Pertumbuhan lumut

Tanaman lumut berkembang biak dengan cara spora. Setelah menyebar, kemudian akan muncul kecambah dan mulai muncul tunas lumut. Inilah yang disebut dengan protonema. Selang beberapa waktu, tunas lumut akan tumbuh besar dan mampu menghasilkan gametangium.

Gametangium berfungsi sebagai penghasil alat seksual yang dapat menghasilkan zygote. Kemudian, beralih menjadi sporogomnium. Ketika sporogomnium sudah matang, ia akan dapat menghasilkan spora.

Perbedaan Metagenesis pada tumbuhan paku dan lumut

Oke, jadi dalam pengamatan tentang metagenesis tanaman paku dan lumut. Bisa diambil kesimpulan bahwa gametofit pada tanaman lumut jangka waktunya lebih lama dan lebih dominan ketimbang sporogonium.

Sedangkan, pada tanaman paku, gametofit berusia lebih pendek daripada sporofitnya.

Tanaman paku memiliki kromosom diploid. Senyawa organik ini diperoleh dari zygot yang berawal dari hasil bertemunya dua sel alat seksual. Sementara itu, pada tanaman lumut, kromosom haploid merupakan hasil dari perkembangan spora yang terbentuk di dalam organ lumut sendiri. Aktivitas ini disebut dengan pembelahan reduksi atau miosis.

Berikut morfologi dari tumbuhan lumut dan tumbuhan paku.

  • Tanaman lumut memiliki spora yang berada di sporogonium menjulang ke atas.
  • Tanaman paku sendiri tidak akan ada di dalam sporogonium, tetapi ada di daun paku tersebut.

Perbedaan tumbuhan paku dan lumut yang lainnya adalah

  • Tanaman lumut tidak terdapat spora
  • Tanaman paku terdapat spora atau sporofil
  • Tanaman paku akarnya adalah akar serabut
  • Tanaman lumut memiliki akar rhizoid
  • Tanaman paku memiliki batang yang terdapat xylem dan floem untuk menyalurkan sari makanan ke seluruh organ tanaman
  • Tanaman lumut tidak memiliki xylem dan floem untuk mengangkut sari makanan. Lumut termasuk non tracheophyta.
  • Tanaman paku memiliki alat pengatur spora bernama anullus
  • Tanaman lumut memiliki alat gigi peristome

Loading…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anti Spam *

Agroteknologi © 2017 Frontier Theme