Loading…

Bisnis Online Modal 10ribu Hasil Jutaan Klik DISINI

Pengertian, Ciri, Penyebab dan Cara Mengatasi Lahan Kritis

Pengertian, Ciri, Penyebab dan Cara Mengatasi Lahan Kritis – Apa sih Lahan Kritis itu? Bagaimana cara menyiasatinya?

Lahan kritis adalah sebuah lahan yang telah mengalami kerusakan baik secara fisik, kimia, dan biologis sehingga berkurang fungsinya atau bisa juga dikatakan kalau lahan kritis ini tidak mempunyai nilai ekonomis.

Lahan ini memiliki sifat tandus dan gundul sehingga tidak dapat digunakan sebagai lahan pertanian.

Meskipun dikelola, produktivitas lahan kritis ini sangat rendah. Bahkan dapat terjadi jumlah produksi yang diterima jauh lebih sedikit bila dibandingkan dengan biaya pengelolaannya.

Baca Juga : Pengertian, Jenis, dan Pencegahan Kerusakan Tanah

Setiap tahunnya jumlah lahan kritis di Indonesia terus meningkat. Hal ini dikarenakan oleh banyak faktor, baik dari alam maupun karena ulah manusia. Apa sih ciri-ciri sampai bisa dibilang kritis?

Ciri-ciri lahan kritis ini dibagi menjadi 2 sudut, yaitu lahan kritis dilihat dari sudut pertanian dan lahan kritis yang dilihat dari sudut pengembangan lahan untuk permukiman.

Bila dilihat dari sudut pertanian, lahan kritis memang tidak menguntungkan, hal dikarenakan ciri-ciri berikut ini,

  1. Lahan tidak subur

Lahan kritis memiliki sifat tandus dan gundul, hal ini karena lahan sudah kehilangan fungsinya.

Fungsi yang dimaksud adalah dimana lahan biasanya memiliki fungsi produksi dan tata air. Nah lahan tidak subur biasanya terkait dengan fungsi tata air.

Lahan kritis tidak mampu menampung sumber air atau mineral didalamnya, sehingga kandungan air atau mineral dalam lahan kritis sangat sedikit sehingga tumbuhan tidak dapat tumbuh.

  1. Lahan miskin humus

Lahan miskin humus ini karena rusaknya fungsi produksi. Fungsi produksi ini terkait dengan tanah yang bisa menyimpan berbagai macam sumber unsur hara bagi tumbuhan. Namun di lahan kritis, kondisi tanahnya tidak bisa menyimpan sumber unsur hara dengan baik sehingga tumbuhan pun tidak bisa tumbuh secara optimal.

Itulah lahan kritis bila dilihat dari sudut pertanian, sementara kalau dari sudut pengembangan lahan untuk permukiman, lahan kritis juga tidak potensial karena :

  1. Daya dukung tanah rendah

Yang dimaksud daya dukung tanah rendah adalah lahan kritis tidak mampu menahan beban besar dalam ukuran ton di setiap satu meter kubik nya. Sehingga bila tetap dipaksakan mendirikan sebuah bangunan di atas lahan kritis maka bangunan tersebut akan roboh atau amblas.

  1. Fluktuasi air tidak baik

Bila di tanah pertanian fungsi tata air diperlukan agar tumbuhan bisa tumbuh dengan baik. Maka kalau untuk permukiman rusaknya fungsi tata air bisa menyebabkan tata letak sumber air tanahnya tidak pas. Jadi sumber air tanahnya menjadi terlalu dangkal atau terlalu dalam sehingga sumber air tanah ini menjadi tidak ideal. Letak sumber air tanah ini akan mempengaruhi bangunan dan kesehatan orang-orang yang tinggal di atas lahan tersebut.

  1. Topografi

Topografi yang tidak cocok untuk sebuah permukiman adalah yang memiliki sudut kemiringan tanah lebih dari 3%. Karena apabila sudut kemiringan tanahnya melebihi 3% maka lahan tersebut akan lebih beresiko terancam rawan bencana alam, seperti tanah longsor dan banjir besar. Hal ini tentu saja bisa menggangu kenyamanan dan keamanan sebuah tempat hunian.

Lantas bagaimana cara menyiasatinya? Sebelumnya kita juga perlu mengetahui persebaran letak lahan kritis berdasarkan letak geografisnya,

  1. Lahan kritis di daerah dataran rendah

Penyebab utama lahan kritis di daerah ini karena adanya genangan air yang terjadi secara terus-menerus sehingga kandungan mineral dan sumber humus yang berada di lapisan teratas menjadi terendap oleh material lain. Endapan ini disebut sebagai sedimentasi tanah. Lahan kritis daerah dataran rendah sering dijumpai di daerah Demak (Jawa Tengah), Tuban, Bojonegoro, Gresik, dan Lamongan (Jawa Timur).

  1. Lahan kritis di kawasan pegunungan

Kawasan pegunungan atau disebut juga dengan kawasan dataran tinggi masih memiliki sumber udara yang masih bersih, kaya oksigen, dan lebih segar. Namun masalah yang mengintai daerah ini adalah bentuk topografinyabisa menyebabkan lahan kritis. Daerah dataran tinggi yang memiliki lahan kritis berada di kawasan Pegunungan Kendeng (Jawa Timur) dan daerah sekitar Ciremai (Jawa Barat).

  1. Lahan kritis di kawasan pantai

Kawasan pantai sangat riskan terpapar masalah abrasi dan erosi. Dampak dari abrasi bisa menyebabkan lapisan sedimen menjadi hancur dan lenyap. Hal ini terjadi karena adanya gelombang laut yang sangat kuat. Daerah yang memiliki gelombang laut kuat berada di daerah muara sungai Cimanuk (Jawa Barat) dan muara sungai Kulon Progo (Yogyakarta).

Setelah mengetahui letak persebaran lahan kritis, cara kita menyiasati masalah ini adalah dengan memetakan lahan kritis per wilayah. Hal ini perlu dilakukan agar lebih jelas masalah tiap lahan kritis dengan baik.

Baca Juga : Cara Singkat Budidaya Tanaman Singkong Secara Organik

Kemudian langkah selanjutnya adalah rehabilitasi lahan. Berikut ini adalah beberapa cara agar rehabilitasi lahan bisa berjalan dengan baik dan maksimal,

  1. Perlunya melibatkan berbagai macam pihak

Memperbaiki sebuah lahan kritis sangat diperlukan kerjasama dari banyak pihak, seperti pemerintah, korporat, dan masyarakat umum secara luas.

Sangat diperlukan sebuah edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya menerapkan gaya hidup yang ramah lingkungan.

Hal ini diperlukan agar masyarakat ikut menjaga kondisi lingkungan sekitar secara baik. Sementara bagi golongan korporat diberikan kesempatan untuk berinovasi agar bisa menghasilkan produk-produk yang tahu lingkungan.

Kalau untuk pemerintah sangat diperlukan kebijakan-kebijakan terkait penanggulangan lahan kritis dan menjaga keberlangsungan lahan produktif. Yang paling penting juga adalah sebuah sanksi tegas terhadap oknum yang melakukan pelanggaran-pelanggaran, seperti penebangan pohon secara liar.

  1. Pengembangan keanekaragaman hayati

Menanami satu lahan dengan berbagai jenis tanaman yang berbeda adalah salah satu cara menanggulangi lahan menjadi kritis.

Menanam aneka ragam tanaman dalam satu lahan secara berdampingan disebut juga sebagai teknik tumpang sari. Hal ini bisa membantu dalam menjaga kandungan unsur hara yang terdapat dalam tanah. Karena setiap tanaman memiliki kebutuhan air dan unsur hara yang berbeda-beda.

  1. Memperluas wilayah untuk penghijauan

Proses penghijauan atau disebut juga Reboisasi sangat perlu dikampanyekan. Hal ini sangat berguna dalam mengatasi masalah lahan kritis ini. Beberapa jenis tanaman dapat dipilih agar reboisasi ini menjadi tepat sasaran.

Tanaman yang memiliki akar tunjang yang kuat dan dalam, memiliki sedikit air saat proses tumbuhnya, dan tidak perlu banyak membutuhkan unsur hara, serta ia termasuk jenis tanaman endemik sangat cocok ditanam di daerah lahan kritis. Hal ini agar membantu menyeimbangkan kembali fungsi lahan kritis yang rusak.

  1. Membuat sengkedan atau terasering

Hal ini sangat cocok dilakukan di daerah kawasan dataran tinggi dengan topografi yang memiliki sudut kemiringan tanah. Membuat sengkedan atau terasering itu seperti membangun tangga-tangga di tanah-tanah yang miring tersebut.

Hal ini perlu dilakukan agar laju air bisa mengalir dengan baik, jika air mengalir dengan baik maka unsur hara pada tanah kembali membaik. Bila kondisi tanah menjadi baik maka tanah tidak akan terlalu berisiko mengalami longsor.

  1. Mengembalikan fungsi daerah aliran sungai (DAS)

Mengembalikan fungsi daerah aliran sungai (DAS) merupakan salah satu agar tanah bisa memiliki area resapan air lebih baik.

Oleh karena itu, perlu lah membuat ekosistem sungai secara baik, seperti mengatur suplai air, menanggulangi banjir, dan menanggulangi kekeringan. Hal ini sangat perlu dilakukan agar masyarakat bisa manfaatkan aliran sungai secara ekonomis.

  1. Reklamasi Pertambangan

Daerah pertambangan merupakan penyumbang terbesar bagi lahan kritis. Oleh karena itu, sangat penting untuk melakukan penghijauan kembali di daerah bekas tambang. Sikap tegas dari  pemerintah sangat diperlukan, seperti tidak sembarangan memberikan ijin untuk membuka lahan tambang baru.

Itulah beberapa cara untuk menyiasati lahan kritis agar bisa menjadi lebih baik. Yang paling penting adalah semua dimulai dari diri sendiri dulu. Biasakanlah menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan sekitar kita dengan demikian kita sudah berkontribusi baik terhadap lingkungan sekaligus menerapkan pola gaya hidup ramah lingkungan.

Baca Juga : Kelebihan dan Keunggulan Tanaman Hibryda

Loading…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anti Spam *

Agroteknologi © 2017 Frontier Theme