Mau Punya Penghasilan 250ribu/Minggu Klik DISINI

Jenis Pupuk Untuk Meningkatkan Hasil Kelapa Sawit

Jenis Pupuk Untuk Meningkatkan Hasil Kelapa Sawit – Banyak faktor yang bisa memengaruhi efisiensi serta efektifitas pemupukan.

Untuk pertumbuhan yang tanaman yang sehat dan berproduksi tinggi, maka tanaman membutuhkan unsur hara yang seimbang dan juga cukup tersedia di dalam tanah.

Apabila  terjadi kekurangan hara maka akan berdampak terhadap pertumbuhan tanaman yang menjadi terhambat dan juga akan mengalami defisiensi zat hara tertentu. Apa saja pupuk yang biasa digunakan dalam budidaya kelapa sawit?

Artikel terkait :

Apa fungsi masing – masing dari pupuk tersebut? Lalu bagaimana ciri defisiensi atau kekurangan dari masing – masing pupuk?

Jenis pupuk yang biasa digunakan untuk meningkatkan hasil kelapa sawit :

Pupuk Nitrogen (N)

  1. Yang tergolong pupuk jenis N adalah Urea, ZA atau Sulfat of Amonia dan AmCl (Amonium Clorida)
  2. Unsur Nitrogen berperan dalam setiap proses fisiologis tanaman dan berperan penting dalam pembentukan utama protoplasma sel, protein, asam amino, amida dan alkaloid.
  3. Kekurangan unsur Nitrogen mengakibatkan terjadinya penurunan aktifitas metabolisme sehingga akan menghambat pertumbuhan tanaman.
  4. Aktiifitas fisiologis akan memberikan pengaruh yang besar pada pertumbuhan dan produksi tandan.
  5. Gejala kekurangan atau defisiensi Nitrogen dapat diketahui dari warna daun yang tampak memucat atau  kekuning – kuningan.

Pupuk Kalium (K)

  1. Yang termasuk pupuk Kalium adalah MOP atau Muriate of Potash, ZK atau Zwavelzure Kali dan KCl (Kalium Clorida).
  2. Unsur Kalium berperan aktif dalam proses fisiologis seperti proses fotosintesis dan transpirasi. Unsur K ini juga berperan sebagai katalisator dalam proses biokimia yang penting dan juga  sebagai regulator dalam setiap proses pembentukan.
  3. Peran unsur Kalium dalam berbagai jenis tanah akan dapat meningkatkan produksi tandan terutama pada jenis tanah yang kandungan pasirnya tergolong tinggi serta pada tanah alluvial dan juga hidromorfik.
  4. Gejala kekurangan kalium dapat ditandai dengan adanya bintik – bintik orange atau Orange Spotting pada helai anak daun kelapa sawit pelepah tertua, kemudian selanjutnya akan meluas ke pelepah yang muda. Bintik – bintik akan bertambah besar dan warnanya juga semakin jelas ke arah orange.
  5. Pada keadaan defisiensi yang sangat berat maka daun akan berubah menjadi coklat kelabu muda, tampak mengering dan seakan menggulung.

Pupuk Phospor (P)

  1. Yang termasuk pupuk phospor adalah RP atau Rock Phospate, TSP atau Triple Super Phospate dan Agrophos.
  2. Unsur Phospor merupakan komponen utama asam nukleat atau nucleic acids yang memiliki penting dalam pertumbuhan dan perkembangan akar. Unsur P ini sangat erat hubungannya dengan unsur hara yang lain dan untuk proses respirasi serta memberikan pengaruh saat kematangan buah.
  3. Gejala defisiensi P secara visual tidak jelas, namun dapat di ketahui secara analisis laboratorium.
  4. Defisiensi P dapat menghambat pertumbuhan, melemahkan jaringan tumbuh serta memperlambat proses fisiologis tanaman.
  5. Pengaruh kombinasi dengan unsur lainnya sangat besar terhadap produksi.

Pupuk Magnesium (Mg)

  1. Yang termasuk pupuk Magnesium yaitu kieserit dan dolomit.
  2. Unsur magnesium berperan dalam sistem enzim dan merupakan pembentuk utama zat hijau daun atau klorofil. Fungsi yang lain dari magnesium adalah unsur phosphor yang membentuk ikatan phospotipids yang ada dalam minyak.
  3. Pengaruhnya terhadap produksi tandan kecil sekali dan tidak secara langsung.
  4. Gejala defisiensi magnesium dapat ditandai dengan adanya garis – garis memanjang sejajar dengan tulang daun yang berwarna jingga mengarah ke kuning.

Pupuk Boron (Bo)

  1. Yang termasuk pupuk Boron yaitu HGF Borate (High Grade Fertilizer)
  2. Boron termasuk mikro, namun peranannya sangat penting untuk menggiatkan pembelahan sel pada jaringan muda.
  3. Gejala defisiensi Bo dapat ditandai dengan adanya ujung helai daun membentuk sudut. Pada defisiensi berat, anak daun pecah – pecah, pelepah daun tidak membuka, pelepah dan anak daun memendek.
  4. Gejala defisiensi Boron tersebut terlihat pada umur 12 – 18 bulan dan puncaknya pada umur 24 bulan.  Proses penyembuhan paling cepat 6 bulan.
  5. Apabila mengalami defisiensi atau kekurangan Boron yang berat dapat menurunkan jumlah produksi tandan dan berat tandan menurun 50 % dari pokok normal.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anti Spam *

Agroteknologi © 2015 Frontier Theme