Mau Punya Penghasilan 250ribu/Minggu Klik DISINI

Cara mengelola Lahan Miring Dengan Menggunakan Metode SALT

Cara mengelola Lahan Miring Dengan Menggunakan Metode SALT – Pada tahun 1971 pengelolaan pada lahan miring teh di perkenalkan oleh Mindanao Baptist Life Center (MBRLC) di Filipina menggunakan metode Sloping Agriculture Land Technology atau lebih sering di singkat dengan sebutan SALT.

Metode ini bisa dibilang metode sederhana karena bisa menggunakan alat sederhana dan modal tidak besar.

metode saltCara mengelola Lahan Miring Dengan Menggunakan Metode SALT :

1. Membuat alat kerja (Frame A)

  • Siapkan tongkat kayu atau bambu yang kuat demam panjang 1,5 meter sebanyak 2 buah untuk dijadikan kaki penopang.
  • Buat tongkat lagi dengan ukuran ½ meter untuk palang.
  • Satukan 2 buah tongkat yang sama panjang tadi dengan di paku atau di tali dengan di bentuk segi tiga dan jarak antar ujung 1 dan 1 nya buat sekitar 1 meter.
  • Pasang tongkat kedua dengan ikatan atau di paku hingga kuat membentuk seperti huruf A.
  • Ikatkan sebuah benang pada ujung France dengan ujung benang di beri pemberat misalkan paku.

2. Membuat garis lintang

Menentukan titik + garis lintasan

Tentukan titik lintasan dengan memberinya patokan dengan kayu berukuran 30 cm dimulai dari area yang lebih tinggi.

Sebaiknya dilakukan oleh 2 orang untuk mengerjakan proses ini yaitu satu memegang France A yang satunya memberi tanda demam patokan. Caranya :

  • Letakkan Frame A di atas tanah dengan ketinggian yang sama, tanda tanah tersebut sama tinggi adalah ketika di letakkan di atas tanah benang akan tegak atau tidak miring. Anggap saja kaki Frame pertama di beri nama A dan kedua B.
  • Beri tanda patokan pada kaki A jika tanah sudah datar.
  • Putar Frame A dengan poros B (jangan di angkat), maka posisinya menjadi B-A-B.
  • Beri patokan lagi pada ujung B ketika sisi A diputar.

Jarak antar garis lintasan

Buat jarak antar garis lintasan secara vertikal atau horizontal. Jika secara vertikal, maka jarak jangan lebih dari 1 meter dibawahnya demi mencegah erosi secara berlebih.

Untuk lahan datar secara horizontal buat jarak sekitar 5 meter demi memaksimalkan kesuburan tanah.

3. Menyiapkan garis lintasan

Lakukan pembajakan atau pencangkulan di antara garis lintasan hingga ujung lahan dengan lebar lahan sekitar 1 meter. Sisanya digunakan untuk tanaman penyeling guna menahan erosi.

4. Menanam tanaman sumber nitrogen

Setiap lintasan memiliki 2 buah alur dengan jarak sekitar ½ meter yang di sebut gang. Pada gang tersebut tanamlah tanaman sumber nitrogen dan tutupi dengan tanah.

Sebaiknya pilihlah tanaman nitrogen sesuai dengan kondisi tanah dan iklim. Misalnya saja menanam tanaman pagar leguminosa, Flemingia macrophylla dan leucaena diversifolia.

5. Mengelola lahan alternatif gang

Tanamilah gang secara berselang – seling guna mencegah terjadinya erosi, hal ini bisa dilakukan ketika tanaman nitrogen masih belum tumbuh dengan baik.

Tetapi jika tanaman nitrogen sudah tumbuh dengan baik, maka bisa menanami pada setiap gang.

6. Menanam tanaman permanen

Tanami tanaman permanen pada setiap gang ketiga pada titik kosong dan bisa di barengi dengan penanaman tanaman nitrogen. Misalnya durian dan rambutan.

7. Menanam tanaman berumur pendek dan sedang

Tanamilah tanaman yang berumur pendek atau sedang pada tengah-tengah gang dan dan tanaman permanen. Biasanya sumber kebutuhan sehari-hari, seperti kunyit dan jagung.

8. Merapikan secara rutin tanaman sumber nitrogen

Pangkas tanaman campuran nitrogen secara teratur misalkan 1 bulan sekali sekitar 1 – 1,5 meter dari tanah. Biarkan potonganan tersebut, karam bisa dijadikan pupuk sehingga dapat mengurangi pupuk komersial.

9. Melakukan rotasi tanaman

Tanamilah lahan secara berotasi demi menjaga kesuburan tanah dan memutus mata rantai hama.

10. Membangun teras hijau

Rawatlah tanaman Yana ada pada lahan agar bisa tumbuh lebat dan sehat.

Baca Juga :

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anti Spam *

Agroteknologi © 2015 Frontier Theme