Cara Budidaya Tanaman Serai

Cara Budidaya Tanaman Serai – Serai merupakan tumbuhan anggota suku rumput-rumputan yang digunakan sebagai bumbu dapur untuk memberi aroma harum pada makanan.

Minyak serai merupakan minyak atsiri yang didapati dengan jalan menyuling bagian atas tumbuhan serai.

Serai bisa digunakan untuk pengusir  nyamuk, baik berupa tanaman atau pun berupa minyak karena memiliki kandungan sitronela yang tidak disukai oleh nyamuk.

Oleh karena itu, serai bisa dimanfaatkan menjadi obat nyamuk dan serangga lainnya.

Pertumbuhan tanaman serai wangi dipengaruhi oleh beberapa faktor yakni kesuburan tanah, iklim, dan tinggi tempat diatas permukaan laut.

Untuk pertumbuhan daun yang optimal diperlukan iklim yang lembab, jadi saat musim kemarau pertumbuhan daun menjadi tidak optimal.

Umumnya serai wangi tumbuh optimal pada tanah gembur sampai liat dengan pH 5,5 – 7,0.

Dengan curah hujan sekitar 1.000 – 1.500 mm/tahun dan bulan kering 4 – 6 bulan, produksi daun menjadi menurun tetapi rendemen dan mutu minyak meningkat.

Jika lokasi lahannya berupa semak belukar cukup dibabat, dibakar, dan langsung dibajak. Kemudian dilakukan pengajiran lubang tanam. Jarak tanam ditanah subur ialah 100 x 100 cm. Di tanah kurang subur ialah 75 x 75 cm. Ukuran lubang tanaman adalah 30 x 30 x 30 cm.

Penanaman serai wangi bisa dilakukan dengan sistem parit, ukuran lebar, dan dalam parit. Pada lahan yang topografinya lereng, disarankan barisan lubang searah kontur.

Penanaman serai wangi pada kemiringan lahan 25 – 30º dengan curah hujan 3.500 mm/th, disarankan menggunakan terasering dan pertanaman secara pagar.

Penanaman adalah proses peletakan benih ke dalam lubang tanam yang sudah disiapkan. Penanaman sesuai dengan jarak tanam agar benih dapat tumbuh optimal, seragam, dan tidak terjadi kompetisi penyerapan unsur hara dan sinar matahari.

Anakan serai wangi ditanam pada lubang dengan kedalaman 10 cm. Setiap lubang ditanam 1–2 anakan. Tanah di sekitar benih dipadatkan supaya tanaman bisa berdiri dengan tegak. Waktu tanam yang tepat adalah saat awal musim hujan.

Pemeliharaan tanaman adalah serangkaian kegiatan yang mencakup penyulaman, penyiangan, pemupukan, pembumbunan, pemberian mulsa, pengendalian hama, penyakit, dan gulma supaya tanaman bisa tumbuh dan berproduksi secara optimal.

Serai wangi diperiksa terlebih dahulu, jika ada yang mati keseluruhan dalam 1 lubang segera dilakukan penyulaman. Penyulaman dilakukan saat tanaman berumur 1–2 minggu.

Penyulaman penting untuk mempertahankan jumlah populasi dan produksi/luas areal tanaman. Anakan yang dipakai sebagai penyulaman bisa berasal dari benih cadangan yang ditanam pada waktu bersamaan di lahan lain.

Penyiangan dilakukan setiap 2 bulan sekali sampai panen pertama. Penyiangan selanjutnya dilakukan setiap selesai panen. Penyiangan gulma yang tumbuh dilakukan dengan pencabutan. Penyiangan terhadap gulma yang tumbuh dilakukan dengan cara pembabatan.

Semak bekas siangan bisa dipakai untuk mulsa. Daun serai wangi yang tua dan kering harus dibuang dan bisa dimanfaatkan untuk bahan bakar penyulingan.

Pembumbunan dilakukan pertama kali saat tanaman berumur 1 bulan setelah tanam dan selanjutnya dilakukan setiap selesai panen.

Pembumbunan dilakukan dengan cara mencangkul tanah sekitar rumpun secara melingkar, lalu tanahnya dibumbunkan ke rumpun serai wangi.

Pemberian mulsa bertujuan menjaga kesuburan tanah, mengurangi penguapan, dan menghambat pertumbuhan gulma terutama saat musim kemarau.

Mulsa yang dipakai ialah alang-alang, jerami, dan glyrisidia. Daun kering serai wangi tidak bisa dipakai untuk mulsa karena bersifat toksik bagi serai wangi itu sendiri.

Pupuk berpengaruh pada produksi daun dan banyaknya minyak atsiri yang dihasilkan/hektar. Umur 1 bulan setelah tanam, beri pupuk Urea sebanyak 25 gram. Pupuk diberikan dengan cara melingkari rumpun sejarak 25 cm.

Pemupukan dilakukan bersamaan dengan pengemburan. Dosis pupuk yang dipakai tergantung dari kondisi tanah. Pupuk NPK (37 ; 65 ; 65) dengan dosis 150 – 200 kg/ha, 50 kg KCl/ha. Pupuk kandang 2 kg/rumpun setiap 6 bulan sekali.

Panen pertama dilakukan saat tanaman berumur 5 – 6 bulan dengan memotong daun serai wangi 5 cm diatas ligula dari daun paling bawah yang belum. Panen selanjutnya bisa dilakukan setiap 3 bulan saat musim hujan dan setiap 4 bulan saat musim kemarau.

Produksi serai wangi dari panen 1 sampai ke 3 meningkat, tetapi panen berikutnya sampai panen ke 7 produksi menurun 50%.

Penurunan produksi daun segar dan minyak setelah tahun ketiga dikarenakan meningkatnya tumbuh rumpun, sehingga akar baru yang tumbuh tidak bisa mencapai tanah yang menyediakan hara.

Untuk meningkatkan produksi daunnya diperlukan pembumbunan sekitar rumpun. Untuk tanah yang subur dan tanaman terpelihara dengan baik, hasil daun segar berkisar 50 – 70 ton/ha/th. Untuk tanaman yang tidak terpelihara dengan baik, produksinya antara 15 – 20 ton daun segar/ha/ th.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anti Spam *

Agroteknologi © 2017 Frontier Theme
    adu q
  1. adu q
  2. hammer of thor asli
  3. Jadikan Mr.P Panjang Besar Kuat dan Tahan Lama - Pesan Sekarang Juga Garansi