Siapakah yang layak memimpin DKI Jakarta 2017-2022?

View Results

Loading ... Loading ...

Beberapa Metode Persilangan Pada Tanaman Menyerbuk Silang

Beberapa Metode Persilangan Pada Tanaman Menyerbuk Silang – Prosedur dari pemuliaan tanaman menyerbuk silang sangatlah berbeda dengan tanaman menyerbuk sendiri.

Tanaman menyerbuk sendiri memiliki tujuan untuk mendapatkan individu tanaman homozigot.

Sedangkan tanaman menyerbuk silang memiliki tujuan untuk mendapatkan suatu populasi yang terdiri dari tanaman tersebut.

Untitled-4

Oleh kerena itu, metode yang digunakan sangatlah berbeda, terutama pada prosedur program seleksi. Varietas yang akan dibentuk dari tanaman menyerbuk silang ialah varietas hibrida dan bersari bebas.

Populasi yang memiliki frekuensi gen tertentu pada dasarnya ialah suatu varietas tanaman menyerbuk silang.

Hal ini dikarenakan mudah untuk melakukan penyerbukan silang maka dalam satu varietas terdiri atas tanaman heterozigot (heterogen), kecuali pada varietas hibrida. Tetapi, secara fenotipe akan nampak sama sehingga populasi tersebut memperlihatkan varietas tertentu.

Tersedianya populasi dasar merupakan langkah pertama dalam program pemuliaan tanaman menyerbuk silang.

Suatu populasi dasar dapat berasal dari genotype lokal atau yang dibentuk oleh seorang pemulia.

Populasi dasar yang sudah ada, perlu untuk diperbaharuhi oleh pemulia melalui suatu sistem persilangan tertentu agar menjadi lebih efektif.

Keragaman genetik pada populasi dasar dapat ditentukan dengan cara memilah genotipe penyusun dan juga karakter perkawinan setiap individu dari anggotan populasi dasar.

Berikut ini merupakan lima sistem persilangan yang dikenal pada tanaman menyerbuk silang.

Kawin acak (random mating)

Pada dasarnya setiap individu dapat melakukan kawin acak. Hal ini disebabkan karena mempunyai kesempatan yang sama untuk membentuk keturunan dan setiap bunga betina akan dapat diserbuki oleh setiap gamet jantan.

Kawin acak yang mengikuti seleksi dapat mempengaruhi dan bahkan mengubah frekuensi suatu gen, keragaman populasi, serta korelasi genetik antara kerabat dekat.

Walaupun dapat mengubah frekuensi gen, namun sangat kecil pengaruhnya terhadap homozigotas tanaman.

 Sistem kawin acak dapat menyebabkan populasi tanaman menyerbuk silang memiliki sifat yang heterosigot dan heterogenus atau beragam.

  • Kawin antar tanaman secara genetik sejenis (genetic assortativemating)

Sistem perkawinan yang satu ini lebih dikenal dengan istilah tangkar dalam atau inbreeding.

Dengan perkawinan ini akan dapat meningkatkan peluang diturunkannya suatu gamet yang sama dari kedua tetuanya yang cenderung menurunkan persentasi heterozigotas dalam populasi yang berakibat pada penurunan karakter suatu tanaman.

Menurut percobaan East pada tahun 1908 dan Shull pada tahun 1909 pada tanaman jagung, baru mendapatkan hasil yang dapat menjelaskan akibat dari sistem inbreeding.

Berdasarkan hasil percobaan tersebut dapat ditarik kesimpulan, yaitu

1) muncul dalam jumlah yang cukup besar genotipe yang mati serta lemah pada generasi tangkar dalam;

2) individu bahan percobaan ternyata dapat terpisah secara capat ke dalam galur-galur yang berbeda, yang masing-masing galur menunjukkan makin seragam dalam berbagai karakter morfologi dan fisiologi, seperti panjang tongkol, tinggi tanaman, dan kemasakan;

3) banyak galur yang mengalami penurunan karakter dan produktivitasnya serta tidak dapat bertahan, walaupun ditumbuhkan pada lingkungan yang sangat menguntungkan;

4) galur yang tetap hidup akan menunjukkan penurunan ukuran dan juga kekuatannya.

  • Kawin antar tanaman secara fenotipe sejenis (phenotypic assortativemating

Sistem perkawinan ini terjadi pada tanaman yang memiliki fenotipe yang sejenis atau serupa, maka pengaruh yang terjadi bergantung ada tidaknya peristiwa yang dominan.

Jika tidak ada peristiwa dominan maka perkawinan hanya akan terjadi pada tipe ekstrim, misalnya AA x AA dan aa x aa.

Perkawinan ini sebagai akibat dari terjadinya konsentrasi dari tipe ekstrim ini dan juga tipe homozigot akan dapat dipertahankan.

Sistem ini sangat cocok apabila tujuan pemuliaan adalah mengembangkan tipe ekstrim.

  • Kawin antar tanaman secara genetik tidak sejenis (geneticdisassortative mating)

Sistem perkawinan antar tanaman secara genetic yang tidak berjenis sama, dimana sistem ini berkaitan langsung dengan persilangan antar spesies. Perkawinan ini disebut juga dengan silang luar atau outbreeding.

Tujuan utama dari sistem ini bukanlah untuk dapat membentuk suatu populasi dasar, tetapi untuk meningkatkan keragaman genetik yang berkaitan dengan sumber suatu bahan pemuliaan tanaman.

Selain itu, juga untuk dapat memperoleh populasi dengan stabilitas yang maksimum.

  • Kawin antar tanaman secara fenotipe tidak sejenis (phenotypic disassortative mating)

Sistem ini dilakukan  dengan tujuan untuk menghilangkan atau mengurangi kelemahan yang ada pada tanaman atau populasi bahan seleksi.

Dengan memilih tetua yang memiliki fenotipe berbeda, dimungkinkan untuk dapat mengatasi kelemahan salah satu dari tetua tersebut.

Baca Artikel Lainnya :

Pada sistem ini lebih condong kepada mempertahankan heterozigositas dalam suatu populasi, akan tetapi mengurangi keragaman populasi jika nilai tipe ekstrim mendekati rata-rata populasi. Akibat lain dari sistem ini ialah akan mengurangi korelasi genetik anatar kerabat.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anti Spam *

Agroteknologi © 2015 Frontier Theme